Tampilkan postingan dengan label tanaman hias. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman hias. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 April 2008
Tanaman Hias Aglaonema
Ini merupakan kebun tanaman hias aglaonema. Lokasinya di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Berbagai jenis Aglaonema ditanam disini. Mulai dari yang berharga murah, Pride of Sumatera. Kelas menengah, Aglaonema Legacy. Hingga yang berharga mahal, Aglaonema Tiara. Lokasi kebun tanaman hias di Ciapus dapat dicapai dari Jakarta melalui jalan Tol Jagorawi. Keluar di Pintu Tol Bogor, lalu menuju kawasan Ciapus, tepatnya di Kecamatan Tamansari. Disinilah Susanto, berkebun tanaman hias sejak empat tahun lalu. Salah satu tanaman hias yang ditanamnya adalah Aglaonema. Kebun khusus Aglaonema terdapat di Kampung Calobak, Ciapus. Disini Aglaonema di tanam di Green House dengan tiang penyangga dari besi. Salah satu jenis Aglaonema kelas bawah lain yang populer adalah Pride of Sumatera. Harganya 10.000 rupiah hingga 12.500 rupiah per daun, atau sekitar 60 ribu rupiah per pot dengan 5 hingga 7 daun. Selain itu, ada juga jenis Bintang Utara atau Northern Star. Harganya di tingkat petani sekitar 250 ribu rupiah per pot. Aglaonema ini jenis Lipstick Clasic. Harganya sekitar 400 ribu rupiah per pot. Untuk kelas atas, tanaman favorit umumnya Aglaonema Lokal. Seperti Aglaonema Tiara. Harganya sekitar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah per daun. Kelebihan dari Aglaonema kelas atas ini adalah dari warna daunnya. Lebih cerah sehingga terlihat lebih indah. Berkebun Aglaonema tidak berbeda dengan berkebun tanaman hias lainnya. Menggunakan Green House dengan paranet minimal 65 persen. Selain itu juga perlu disiapkan rak tempat polibeg. Bibit ditanam pada Media Sekam atau Akar Pakis. Setelah tumbuh daun, dilakukan pemeliharaan rutin, dibersihkan dari tanaman parasit. Para petani Aglaonema disini tidak perlu mencari pasar. Karena para pedagang dan kolektor datang langsung kesini. Pembeli datang dari Jakarta dan kota - kota besar lain di Indonesia. Untuk pengiriman jarak jauh dilakukan cara tersendiri, agar kemasannya ringkas dan tanaman tidak mati. Bila dilakukan dengan tata cara yang benar, berkebun Aglaonema sangat menguntungkan. Petani minimal dapat memperoleh keuntungan dua kali lipat dari modal. Tim liputan: Ahmad Susanto (Helmi Azahari).
Jumat, 28 Maret 2008
Sukses Berkebun Anggrek
Anggrek merupakan tanaman hias bernilai ekonomi tinggi. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Bunga anggrek tidak saja dipasarkan di dalam negeri tetapi juga diekspor ke berbagai negara. Salah seorang yang sukses menekuni usaha kebun anggrek adalah Rizal Djaafarer. Di kebun anggreknya di kawasan Lembang, Bandung, Jawa Barat, ditanam berbagai jenis anggrek yang diekspor ke luar negeri. Untuk mencapai lokasi kebun anggrek Rizal dari Jakarta dapat ditempuh melalui jalan tol Cipularang menuju Bandung. Kemudian diteruskan menuju arah Lembang. Di areal seluas 2 hektar, yang menyatu dengan rumah pemiliknya inilah, Rizal Djafarer berkebun anggrek. Berbagai jenis tanaman anggrek ditanam disini, seperti anggrek Dentrobium, Phalaenopsis atau anggrek Bulan, Vanilla, Cathalia dan Miltonia. Usaha ini telah ditekuninya sejak tahun 1985 lalu. Rizal yang lulusan ITB ini awalnya berprofesi sebagai arsitek. Namun kemudian dia banting setir menjadi petani anggrek. Setelah menekuni usaha ini selama 21 tahun, Rizal kini telah memetik hasil perjuangannya. Bunga anggreknya tidak saja dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah diekspor ke berbagai negara. Di rumah bunganya ini, Rizal tidak saja memelihara anggrek tetapi juga membudidayakannya dengan cara persilangan. Setiap harinya, dengan dibantu 7 orang karyawannya, Rizal membudidayakan anggrek, di dalam botol. Dari setiap botol ini, nantinya akan dihasilkan tidak kurang dari 30 pohon anggrek. Kini Rizal yang lahir di Rengat, Kepulauan Riau, 53 tahun lalu ini juga aktif mengembangkan tanaman anggrek di beberapa daerah, seperti di Bali, Sumatera Barat, dan Kalimantan. Kepada mereka yang ingin menggeluti usaha kebun anggrek, Rizal bersedia membagi ilmunya, dan kebunnya terbuka untuk mereka yang ingin belajar.Tim liputan: Asep Syaifullah & Ahmad Susanto(Helmi Azahari)
Tanaman Hias Bambu Hoki
Kerajinan bambu hoki merupakan salah satu usaha yang dapat ditekuni. Bentuknya yang indah, membuat permintaan terhadap tanaman hias ini cukup tinggi. Bahkan telah merambah pasar ekspor. Terutama Korea dan China. Bambu hoki yang dalam bahasa latinnya disebut dracaena sanderiana ini, diyakini merupakan tanaman pembawa hoki. Salah satu tempat pembuatan kerajinan bambu hoki terdapat di kawasan Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat. Pengelolanya Evi yang telah menggeluti usaha ini selama lebih dari 10 tahun. Proses pembuatan kerajinan bambu hoki cukup sederhana. Bahan bakunya berupa daun suji yang diperoleh dari petani. Daun suji ini dibeli berdasarkan panjang dan diameternya. Harganya bervariasi antara dua puluh lima rupiah hingga lima puluh rupiah permeter. Sebelum dirangkai, daun suji terlebih dahulu dipilih dan dikupas kulitnya. Setelah itu dibersihkan dengan cairan disinfektan, agar steril dari bakteri dan hama penyakit. Setelah itu dipotong sesuai bentuk yang diinginkan. Lalu disemaikan selama tiga minggu hingga muncul tunas. Proses pengolahan ini dilakukan oleh tangan-tangan terampil para pekerja rumahan, yang merupakan warga sekitar. Setelah berbentuk setengah jadi, dapat diolah lagi hingga menjadi produk yang memiliki nilai seni yang tinggi. Bentuk rangkaiannya bisa berupa pagoda dan air mancur. Namun bisa juga dirangkai dengan alat khusus sehingga berbentuk vas bunga dan kendi. Agar lebih indah, dapat diberi pita emas dan dibubuhi lilin. Kerajinan bambu hoki banyak diminati pasar lokal maupun ekspor. Di pasaran lokal harganya berkisar antara sepuluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari bentuk lampion. ada juga yang berbentuk bola, guci, oval dan bunga teratai.Tim liputan: Yadi Supyandi, Medi Kuswadi & Warsam Aji(Helmi Azahari)
Manisnya Budidaya Anthurium
Anthurium merupakan tanaman hias yang sedang booming di Indonesia. Harganya sangat menggiurkan, bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Tanaman hias ini begitu unik karena tektur daun nya memiliki keunikan
tersendiri, tebal dan tegas. Warnanya hijau sedap di pandang mata. Tanaman bersosok gagah ini konon merupakan tanaman kaum ningrat atau orang kaya. Tanaman dengan daun lebar berurat kekar ini, banyak ditanam di rumah besar berhalaman luas, dan dianggap memiliki aura tersendiri. Salah seorang yang menekuni budidaya anthurium adalah Kurniawan Junaedhi, di kebunnya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten. Perjalanan menuju kebun anthurium Kurniawan dari Jakarta dapat melalui jalan tol Jakarta-Tangerang, keluar di pintu tol tangerang lalu menuju kawasan Serpong. Di Indonesia tanaman anthurium dapat beradaptasi dengan baik di segala tempat, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Tanaman ini ideal berkembang di dataran sedang antara tiga ratus sampai lima ratus meter diatas permukaan laut. Di lahan seluas dua ratus meter persegi inilah Kurniawan menanam dan mengoleksi anthurium. Sedikitnya 25 jenis anthurium dikembangkan disini. Seperti anthurium garuda ini. Anthurium sirih dan keris juga dapat ditemui disini, bentuknya yang eksotik membuat harganya bisa mencapi 6 juta rupiah per pohon, jika daunnya sudah rimbun. Selain itu juga ada anthurium jenis wave of love atau gelombang cinta. Cirinya daunnya bergelombang. Jenis anthurium yang paling favorit dan banyak dicari adalah anthurium jenmani. Variannnya cukup banyak, ada jenmanii kobra, jenmanii petruk dan jenmani ombak. Perawatan tanaman anthurium tidak sulit, asalkan tahu caranya. Anthurium tidak tahan terhadap terpaan sinar matahari langsung. Habitat asli tanaman ini adalah daerah pegunungan tropis yang banyak terlindung oleh pepohonan besar. Maka dalam perawatan nya anthurium perlu ruangan yang teduh. Tanaman anthurium dapat dibudidayakan secara generatif ataupun secara vegetatif. Perbanyakan generatif dilakukan dengan memanen bijinya kemudian di semai. Sementara perbanyakan vegetatif bisa di lakukan dengan cara stek pucuk, stek batang dan pemisahan anakan. Anthurium membutuhkan media tanam tersendiri. Media yang paling tepat yaitu akar pakis. Anterium memerlukan sirkulasi udara dalam perakaran tanamannnya yang poros dan baik, karena itu pakis yang steril dari tanah adalah media tanam yang paling ideal. Bila tersisa tanah, akan menjadilahan empuk bagi keong dan cacing bersarang yang akan menyerang batang bawah tanaman. Agar anthurium tampil prima, jangan abaikan faktor lokasi, suhu, kelembaban, sinar matahari dan media tanam. Jika di rawat dan tumbuh optimal, anthurium merupakan emas hijau, yang menjadi investasi yang sangat menguntungkan.Tim liputan: Yadi Supyandi & Damar Galih(Helmi Azahari)
tersendiri, tebal dan tegas. Warnanya hijau sedap di pandang mata. Tanaman bersosok gagah ini konon merupakan tanaman kaum ningrat atau orang kaya. Tanaman dengan daun lebar berurat kekar ini, banyak ditanam di rumah besar berhalaman luas, dan dianggap memiliki aura tersendiri. Salah seorang yang menekuni budidaya anthurium adalah Kurniawan Junaedhi, di kebunnya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten. Perjalanan menuju kebun anthurium Kurniawan dari Jakarta dapat melalui jalan tol Jakarta-Tangerang, keluar di pintu tol tangerang lalu menuju kawasan Serpong. Di Indonesia tanaman anthurium dapat beradaptasi dengan baik di segala tempat, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Namun untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Tanaman ini ideal berkembang di dataran sedang antara tiga ratus sampai lima ratus meter diatas permukaan laut. Di lahan seluas dua ratus meter persegi inilah Kurniawan menanam dan mengoleksi anthurium. Sedikitnya 25 jenis anthurium dikembangkan disini. Seperti anthurium garuda ini. Anthurium sirih dan keris juga dapat ditemui disini, bentuknya yang eksotik membuat harganya bisa mencapi 6 juta rupiah per pohon, jika daunnya sudah rimbun. Selain itu juga ada anthurium jenis wave of love atau gelombang cinta. Cirinya daunnya bergelombang. Jenis anthurium yang paling favorit dan banyak dicari adalah anthurium jenmani. Variannnya cukup banyak, ada jenmanii kobra, jenmanii petruk dan jenmani ombak. Perawatan tanaman anthurium tidak sulit, asalkan tahu caranya. Anthurium tidak tahan terhadap terpaan sinar matahari langsung. Habitat asli tanaman ini adalah daerah pegunungan tropis yang banyak terlindung oleh pepohonan besar. Maka dalam perawatan nya anthurium perlu ruangan yang teduh. Tanaman anthurium dapat dibudidayakan secara generatif ataupun secara vegetatif. Perbanyakan generatif dilakukan dengan memanen bijinya kemudian di semai. Sementara perbanyakan vegetatif bisa di lakukan dengan cara stek pucuk, stek batang dan pemisahan anakan. Anthurium membutuhkan media tanam tersendiri. Media yang paling tepat yaitu akar pakis. Anterium memerlukan sirkulasi udara dalam perakaran tanamannnya yang poros dan baik, karena itu pakis yang steril dari tanah adalah media tanam yang paling ideal. Bila tersisa tanah, akan menjadilahan empuk bagi keong dan cacing bersarang yang akan menyerang batang bawah tanaman. Agar anthurium tampil prima, jangan abaikan faktor lokasi, suhu, kelembaban, sinar matahari dan media tanam. Jika di rawat dan tumbuh optimal, anthurium merupakan emas hijau, yang menjadi investasi yang sangat menguntungkan.Tim liputan: Yadi Supyandi & Damar Galih(Helmi Azahari)
Langganan:
Postingan (Atom)



